Rabu, 31 Juli 2013

Harga Tiket Pesawat Untuk Bayi dan Anak-anak


Berapa harga tiket pesawat untuk bayi dan anak-anak? Pertanyaan seperti itu seringkali diajukan kepada kami baik melalui YM maupun email. Seperti yang Anda ketahui, hingga saat ini Utiket memang baru menyediakan info harga tiket pesawat untuk dewasa saja. Kenapa tidak menampilkan opsi untuk penumpang bayi dan anak-anak? Berikut penjelasannya:

Kategori penumpang bayi dalam dunia penerbangan ditujukan bagi seseorang yang berumur antara nol hingga dua tahun. Sedangkan untuk kategori anak-anak ditujukan bagi seseorang yang berumur antara dua hingga duabelas tahun. Diatas duabelas tahun sudah termasuk dalam kategori penumpang dewasa. Seperti yang kita tahu, setiap perusahaan pastilah memiliki kebijaksanaan yang berbeda-beda. Begitu pula dengan setiap maskapai. Tidak semua maskapai menerapkan sistem yang sama dalam penentuan harga tiket untuk penumpang bayi. Kalau untuk penumpang kategori anak-anak, hampir semua maskapai menerapkan harga tiket mengikuti harga penumpang dewasa.

Untuk harga tiket penumpang bayi akan berbeda-beda untuk setiap maskapai. Sebagai contoh, Garuda Indonesia menerapkan harga tiket penumpang bayi sebesar sepuluh persen dari harga penumpang dewasa, Tiger Airways atau Mandala menerapkan tarif sebesar 50 Dollar Singapura atau sekitar Rp. 394.000 per bayi per sektor penerbangan. Sedangkan untuk maskapai lain seperti Lion, Citilink dan kebanyakan maskapai lainnya, harga tiket untuk bayi akan terlihat setelah dilakukan proses pembookingan oleh travel agent.

Seperti yang Anda ketahui pula, Utiket hanya sebatas memberikan info harga tiket penerbangan saja tanpa menjual tiket. Oleh sebab itulah Utiket tidak menampilkan opsi untuk penumpang bayi dan anak-anak dalam form pencarian karena Utiket sendiri tidak bisa melakukan proses pembookingan tiket pesawat. Jika Anda merencanakan bepergian dengan pesawat bersama bayi , Anda bisa mencari info harga tiket dewasa dahulu di utiket.com. Setelah menemukan harga yang cocok, Anda bisa membookingnya melalui salah satu mitra kami untuk mengetahui total harga tiket bersama bayi Anda.

Sumber : utiket.com

Sejarah Susi Air




Susi Air merupakan salah satu maskapai penerbangan yang ada di Indonesia.  Susi Air sendiri dikelola oleh PT ASI Pujiastuti Aviation. Susi Air memang lebih banyak beroperasi di daerah-daerah yang belum dijamah oleh maskapai-maskapai besar lainnya. Sejarah Susi Air tidak lepas dari wanita tangguh asal kota kecil Pangandaran yang bernama lengkap Susi Pudjiastuti. Wanita ini banyak menginspirasi banyak orang melalui kisah hidupnya yang akhirnya bisa menjadikannya sebagai salah satu pengusaha wanita yang berjaya di bisnis perikanan dan penerbangan.

Susi Air berawal dari mimpi pemiliknya, Susi Pudjiastuti yang ingin mempunyai pesawat untuk mengantar ikan dari Pangandaraan sampai Jakarta. Susi memang saat itu merupakan pengusaha ikan. Dia mengirim ikan-ikan yang dikumpulkan dari nelayan Pangandaran ke Jakarta dengan truk. Susi bukanlah anak pengusaha dari keluarga berada. Dia hanya wanita yang bahkan tidak lulus SMA. Bagi dia, pendidikan formal tidaklah penting dan dengan tekad tinggi keluar dari bangku SMA dan dengan kerja keras dan keuletannya dia berhasil mempunyai pabrik pengolahan ikan berkualitas eksport serta 50 pesawat.

Susi Air pertama kali terbang pada tahun 2004. Sebenarnya Susi telah menyusun rencana bisnisnya dengan suami tercinta, Christian Von Strombeck di tahun 2000 namun saat itu belum ada bank yang mau meminjamkan dana untuk membeli pesawat. Baru pada tahun 2004, Bank Mandiri meminjamkan dana sebesar USD 4,7juta untuk memulai bisnis penerbangannya. Bencana tsunami di Aceh yang terjadi pada tahun 2004, tepatnya dua bulan selepas penerbangan perdana Susi Air sempat menghambat laju Susi Air. Saat itu Susi sang pemilik memilih mengoperasikan pesawatnya guna mengirim makanan dan obat-obatan untuk para korban bencana tsunami. Karena rasa kemanusiaan tersebut, dia hampir tidak mempedulikan kerugian yang dideritanya karena pesawatnya tidak bisa beroperasi dan otomatis tidak ada penghasilan untuk saat itu. Namun siapa sangka kebaikannya berbuah manis saat Susi Air hendak kembali ke Cilacap, lembaga swadaya masyarakat asing berniat menyewa pesawat tersebut untuk mengirim bantuan ke Aceh. Uang penyewaan pesawat itupun bisa digunakan untuk membayar cicilan kepada bank.

Susi Air saat ini memang lebih fokus ke penerbangan perintis namun selalu mengembangkan bisnis penerbangannya. Pada tahun 2011, Susi Air telah mempunyai 50 pesawat dan 80 pilot namun sang pemilik terus mengembangkan sayapnya. Susi Pudjiastuti pemilik Susi Air merupakan salah satu wanita Indonesia yang patut kita tiru kerja kerasnya hingga mampu menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain.

Sumber : utiket.com

Kamis, 25 Juli 2013

Citilink harap operasionalisasi Bandara Kualanamu berjalan baik

Sisi Muka Bandara Kualanamu
Salah satu sisi bagian dalam Bandara Kualanamu
 
Cengkareng, Banten - CEO PT Citilink, Arif Wibowo, mengharapkan operasionalisasi Bandara Udara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, berjalan baik, yang dia katakan,  "Kami harap migrasi ke sana baik semuanya. Jika ada masalah, kami telah siapkan rencana cadangan."

Citilink sejauh ini memiliki empat penerbangan Jakarta-Medan, yang sampai sebelum pukul 00.00 WIB Rabu (25/7) masih mendarat di Bandara Udara Internasional Polonia, Medan. 

Seluruh operasionalisasi penerbangan dari dan menuju Bandara Udara Internasional Polonia, Medan, masih berlangsung hingga pukul 00.00 WIB malam ini. Mulai tenggat waktu tengah malam nanti, semua operasionalisasi penerbangan di Polonia dipindahkan ke Kualanamu.

Tim teknis dan administrasi serta teknologi informatika PT Citilink telah bersiaga di Bandar Udara Internasional Kualanamu untuk "menyesuaikan" segala sesuatu dan sistem yang baru berjalan di sana. Salah satu rencana cadangan itu, katanya, sesuai dengan prosedur operasi standar yang berlaku di dunia penerbangan.

"Jika sistem terganggu, misalnya, kami tempuh cara manual. Misalnya, data pemakai jasa kami cetak, dan prosedur lanjutan bisa berjalan baik. Bisnis penerbangan ini sangat presisi dan harus demikian," katanya. 

Citilink sebagai maskapai penerbangan berbasis biaya rendah, semakin mendekatkan diri dengan konsumen. Di antaranya membuka gerai pendaftaran pemakai jasa yang lebih besar di Terminal 1C Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Wibowo dan sejumlah pemangku kepentingan di Citilink hadir dalam peresmian gerai terdiri dari 10 meja yang semula dipergunakan Batavia Air, yang belakangan beku operasi.

Selain itu, Citilink dengan 22 pesawat terbang Airbus A320 terbarunya itu, memiliki program layanan unggulan baru, bernama Self Check-in di dalam ruang pendaftaran ulang pemakai jasanya di terminal itu. 

Dengan program dan perangkat berbasis internet ini, pemakai jasa bisa memasukkan data jati diri, nomor penerbangan, dan rute tujuan serta waktu penerbangan secara swadaya; kemudian keluarlah lembar pendaftaran ulang itu. 

"Ini akan memangkas waktu sedemikian rupa, sangat praktis dan meningkatkan kualitas layanan kami. Apalagi jika pemakai jasa itu tidak memiliki bagasi tambahan, akan terasa cepat sekali," kata Wibowo.


Editor: Ruslan Burhani

sumber: antaranews.com